Wirth’s law

Published

December 1, 2021

Gordon Moore mempopulerkan Moore’s law:

“Jumlah transistor pada integrated circuit (IC) berlipat ganda, kurang-lebih, tiap dua tahun”

Ini barangkali tidak asing bagi yang berkecimpung di dunia ilmu komputer. Ini bukan law seperti pada scientific law, tapi hanya mengacu pada pengamatan empiris Moore dari tahun ke tahun. Konsekuensinya, performa komputer kita (seharusnya) akan selalu meningkat seiring berjalannya waktu.

Bagaimana realitanya? Memang, sejauh saya lihat, selalu ada peningkatan kualitas (dan kuantitas) hardware pada produk-produk komputer. Ambillah contoh laptop apapun merknya. Kapasitas RAM selalu meningkat dari 2GB, menjadi 4GB, kemudian 8GB, kemudian 16GB, dan seterusnya. Begitu juga kapasitas penyimpanan file.

Sayang sekali, dunia software berlawanan dengan dunia hardware. Yang saya rasa, alih-alih bertambah cepat, software malah bertambah lambat. Contoh terdekat: sistem operasi. Mana ada sistem operasi (mayor) yang tidak bertambah kebutuhan minimal hardware-nya? Cobalah pasang windows 10 di komputer era awal 2000-an kemudian kerja dengan itu. Ya… Kalaupun anda pingin kena mental atau mati muda.

Ternyata bukan cuma saya saja yang gemes. Niklaus Wirth, living legend dunia ilmu komputer, sampai memperkenalkan Wirth’s law (juga bukan law seperti dalam law of science):

software is getting slower more rapidly than hardware is becoming faster

Alias, laju software menjadi lambat lebih cepat daripada laju hardware menjadi lambat. Alias, software makin lama bukannya makin cepat, tapi makin lambat dan bloated di tiap versinya. Ada juga variasi lelucon dari Wirth’s law:

“What Intel giveth, Microsoft taketh away”

¯\_(ツ)_/¯

Komplain utama Wirth sebenarnya adalah abainya pengguna software dalam membedakan mana fitur yang esensial dan mana fitur yang bersifat nice-to-have saja. Hasilnya, sumberdaya hardware yang tinggi itu dipenuhi dengan fitur-fitur yang tidak terlalu penting.

Tapi, kan, seiring dengan perubahan zaman, bukannya memang akan banyak kebutuhan yang baru?

Fair enough. Tapi biarkan saya tanya balik sebagai reality check: Apakah anda yakin itu memang kebutuhan? Bagaimana kalau itu bukan kebutuhan, tapi anda dibuat merasa butuh (secara tak sadar dan tersistem), padahal kalau tidak ada itu anda masih baik-baik saja?

Saya berani bertaruh, di tahun 2021, di Windows 11, walaupun hanya dengan MS Word 2007 (seandainya masih didukung), kebanyakan mahasiswa atau pegawai kantoran masih bisa beraktivitas ketik-mengetik dan mencetak seperti biasa, dengan produktivitas yang kurang lebih sama saja.


Key takeaway: selalu perhatikan mana yang menjadi kebutuhan dan mana yang menjadi keinginan, agar sumberdaya kita tidak habis oleh hal yang tidak terlalu penting.